Kamis, 27 Oktober 2022

Nur Muhammad

Bismillah

NUR

Hakikat kebesaran Nur Muhammad itu meng-himpun-kan 4 jenis alam, yaitu :

1. Alam HASUT = Alam yang terhampar di langit dan bumi dan segala isinya.

(Maksudnya : Hasut pada diri kita = Anggota jasad, Kulit, Daging, Otak, Sumsum, Urat, Tulang)

2. Alam MALAKUT = Alam gaib bagi malaikat-malaikat

(Maksudnya : Malakut pada diri kita =  Hati, Akal, Nafas, Nafsu, Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Perasa dan sebagainya)

3. Alam JABARUT = Alam gaib bagi Arasy, Kursi, Lauhul Mahfudz, Surga, Neraka

(Maksudnya : Jabarut pada diri kita = Roh, Ilmu, Hikmah, Fadilat, Hasanah yaitu segala sifat yang mulia dan terpuji)

4. Alam LAHUT = Alam gaibul gaib kebesaran Nur Muhammad

(Maksudnya : Lahut pada diri kita = Batin tempat Rahsia, Iman, Islam, Tauhid dan Makrifat)

(Maksudnya lagi : 4 Alam diatas = Wujud kesempurnaan tajalli Nur Muhammad = terhimpun kepada kebenaran wujud diri Rasulullah yang bernama Insanul Kamil)

Hal ini menjadi berkah dan “Faidurrabbani” yakni kelebihan bagi tiap tiap mukmin yang ahli tahkik, bahwa mereka itu adalah “Wada syatul Ambiya” yakni mewarisi kebenaran batin nabi nabi dan rasul rasul dan mukmin yang tahkik itulah yang dinamakan Aulia Allah, namun kebanyakan mukmin itu tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Aulia yang sebenarnya.
#cps


Wallahu a'lam

Minggu, 23 Oktober 2022

nafsu

Bismillah ...

7-martabat nafsu

1. Nafsu Ammarah
2. Nafsu Lauwwamah
3. Nafsu Mulhimah
4. Nafsu Muthmainnah
5. Nafsu Radliyah
6. Nafsu Mardliyah
7. Nafsu Kamilah
Berikut analisa untuk masing-masing
martabat nafsu tersebut:

1. Nafsu Ammarah
Perangai orang pada martabat nafsu ini
selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan bisikan syetan. Karena itu
nafsu ammarah ini kerjanya senantiasa
menyuruh berbuat maksiat, baik ia
tahu perbuatan itu jahat atau tidak.Bagi dia baik dan buruk adalah sama saja. Kejahatan dipandangnya tidak menjadikan apa-apa bila dikerjakan.
Dia tidak mencela kejahatan, bahkan sebaliknya selalu sinis dan suka mencela segala bentuk kebaikan yang diperbuat orang lain. Nafsu ammarah ini adalah derajat yang paling rendah sekali, dan sangat berbahaya serta merugikan diri pribadi yang sekaligus
akan menyeretnya ke lembah kehinaan.
Sebagian dari sifat-sifat orang pada
martabat nafsu ammarah ini ialah:

Bakhil atau kikir,
Tamak dan loba kepada harta benda,
Berlagak sombong dan takabbur
(membanggakan diri)
Suka bermegah-megahanan dan
bermewah-mewahan
Ingin namanya terkenal dan populer.
Hasad dan dengki
Berniat jahat dan khianat
Fitnah, Ghibah, Namimah,
Lupa kepada Allah SWT
Dan lain-lain sifat tercela.
Orang pada martabat nafsu ammarah ini hendaknya selalu berdzikir “nafi📿itsbat” dan banyak ingat kepada Allah ketika berdiri, duduk dan berbaring, disamping zikrul maut (ingat pada mati).

2. Nafsu Lauwamah
Orang pada martabat nafsu ini suka
mengritik atau mencela kejahatan dan membencinya. 
Apabila ia terlanjur berbuat kejahatan, ia lekas menyadari dan menyesali dirinya. Memang dia menyukai perbuatan baik, tapi kebaikan ini tidak dapat dipertahankan secara terus menerus karena dalam hatinya masih bersarang maksiat- maksiat batin. Meskipun hal ini diketahuinya tercela dan tidak disukainya, namun selalu saja maksiat batin itu menyerangnya. Sehingga apabila kuat serangan maksiat batin itu, maka sekali-kali dia berbuat maksiat dzohir karena tidak mampu melawannya. Meskipun demikian dia tetap berusaha menuju keridhoan Allah sambil mengucap istighfar memohon ampun dan menyesal atas kemaksiatan yang diperbuatnya.
Diantara sifat-sifat tercela dari nafsu
lauwamah ini adalah:

Menyadari kesalahan diri atau menyesal berbuat kejahatan.
Timbul perasaan takut kalau bersalah
Kritis terhadap apa saja yang dinamakan kejahatan.
Heran kepada diri sendiri, mengiradirinya lebih baik dari orang lain (ujub).
Memperbuat suatu kebaikan agar dilihat dan dikagumi orang (riya’).
Menceritakan kebaikan yang telah
diperbuatnya supaya mendapat pujian
orang (sum’ah).
Dan lain-lain sifat tercela didalam hati.

Orang yang berada pada martabat
nafsu lauwamah ini hendaklah memperbanyak dzikir qolbu atau hati❤️. Dzikir lisan atau lidah sudah *berpindah masuk kedalam hati sehingga hati hidup bergerak dengan zikir tanpa menggunakan lidah lagi.

3. Nafsu Mulhimah
Martabat nafsu mulhamah ini adalah
nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses pensucian dari sifat- sifat hati yang kotor dan tercela melalui cara kehidupan orang-orang Tasawwuf (sufi).

Orang pada martabat nafsu mulhamah
ini boleh dikatakan baru mulai masuk tingkat kesucian, baru mulai mencapai fana, tetapi belum teguh dan mantap karena ada kemungkinan sifat-sifat terpuji itu akan lenyap dari dirinya.

Sifat-sifat yang timbul dari nafsu
mulhamah ini antara lain:

Tidak menyayangi harta benda (pemurah)

Merasa cukup dengan apa yang ada (qona’ah).

Mempunyai ilmu LADUNI yaitu ilmu langsung didapat dari ILHAM.

Timbul perasaan merendahkan diri
kepada Allah (Tadlarru’)

Taubat, memohon ampun kepada Allah
dari dosa yang telah dikerjakan

Sabar dalam segala hal yang menimpa

Tenang menghadapi segala kesulitan.

Orang yang telah mencapai martabat
nafsu mulhamah ini hendaklah memperbanyak dzikir sir atau dzikir rahasia. Ketika berdzikir hendaklah menghadirkan “Wujud Allah” yang mutlak, karena tiada wujud yang mutlak melainkan Allah.

4. Nafsu Muthmainnah
Apabila orang pada martabat nafsu mulhamah tetap dalam proses mencapai maqam haqikat dan ma’rifat, maka akan melekatlah di lubuk hatinya sifat-sifat terpuji itu, dan terkikis
habislah sifat-sifat yang tercela. Maka pada waktu itulah dia masuk ke dalam martabat nafsu muthmainnah.
Nafsu ini adalah sebagai permulaan mencapat derajat shufi atau wali
Orang yang telah mencapai martabat
nafsu ini Senantiasa merasa hatinya seolah-olah berada bersama Allah (Ma’allah).

Diantara sifat-sifat keruhanian yang
timbul dari nafsu muthmainnah adalah:

Pemurah dan suka bersedekah {Karamah}.

Menyerahkan diri kepada Allah (Tawakkal).

Bersifat arif dan bijaksana.

Kuat beramal dan kekal mengerjakan sholat

Mensyukuri ni’mat yang diperoleh dengan membesarkan Allah.

Menerima dengan rasa puas apa yang
dianugerahkan Allah (ridho) menerima
qodho dan qodar.

Takwa kepada Allah (Taqwallah)
Dan lain-lain sifat yang mulia.

Inilah nafsu muthmainnah, nafsu yang tenang, yang diseru Allah masuk ke
dalam Surga-Nya.

Orang yang telah berada pada martabat nafsu ini dzikirnya tetap hidup dalam rahasia (sir) yaitu batin bagi ruh.

5. Nafsu Radhiyah
Martabat Nafsu radhiyah ini derajatnya lebih tinggi dari martabat nafsu muthmainnah. 
Nafsu radhiyah ini sangat dekat dengan Allah dan menerima dengan perasaan ridha segala hukum Allah. Karena itu segala problema kehidupan duniawi sama saja bagi para wali martabat nafsu radhiyah ini. Nilai uang sama saja dengan kertas biasa. Mereka tidak takut atau khawatir kepada siapapun yang akan
mengganggu, dan tidak pula bersedih hati atas segala penderitaan sebagaimana kesedihannya yang diderita orang-orang awam.

Sifat-sifat keruhanian yang timbul dari
nafsu radhiyah ini antara lain adalah:

Zuhud dari dunia

Ikhlas kepada Allah

Wara’ dalam ibadat

Meninggalkan segala sesuatu yang
bukan pekerjaannya

Menunaikan dan menetapkan hukum-
hukum Allah.
Dan lain-lain perangai mulia dan terpuji.

Hati❤️orang yang telah mencapai martabat nafsu radhiyah ini senantiasa merasa seolah-olah ia berada dalam Allah (Fana Fillah).

Dzikir orang martabat ini tetap hidup dalam persembunyian rahasia (sirrus sirr).

6. Nafsu Mardliyah
Martabat nafsu mardliyah ini lebih tinggi dari martabat nafsu radliyah, karena segala perilaku orang nafsu ini, baik perkataan maupun perbuatan adalah diridhoi Allah dan diakui-Nya.

Oleh karena itu, jadilah jiwanya, perasaannya, lintasan hatinya, gerak-geriknya, pendengarannya, penglihatannya, perkataannya, gerak kaki dan tangannya, kesemuanya itu adalah diridhoi Allah belaka.

Diantara sifat-sifat akhlak mulia dan
terpuji yang timbul dari martabat nafsu
ini adalah sebagai berikut:

Baik budi pekertinya seperti akhlak
Nabi-nabi.

Ramah tamah dalam pergaulan dengan
masyarakat Sebagaimana perangai para Nabi.

Senantiasa merasa berdampingan
dengan Allah.

Selalu berfikir pada kebesaran Allah.

Ridho dengan apa saja pemberian Allah.
Dan lain-lain budi pekerti yang luhur dan terpuji.

Dalam perjalanannya {Tarekat} hati orang martabat nafsu mardliyah ini seolah-
olah merasa dalam keadaan dengan Allah semata-mata (BaQa Billah). Dan terus
menerus mengambil {Laduni/ilham} ilmu daripada Allah.  Setelah melalui martabat fana’, dia akan kembali ke maqam baqa.
Dengan kata lain setelah ia sampai {Wusul} kepada Allah, maka kembali lagi kepada makhluk Dan ketika itu dapatlah ia menceburkan diri dalam kehidupan masyarakat, memberi petunjuk dan menuntun ummat ke jalan syari’at agama Allah yang benar.

Dzikir orang martabat nafsu ini tetap hidup dalam persamadhian rahasia (khafi) yaitu batin bagi “sirrus sirri”.

7. Nafsu Kamilah
Martabat nafsu kamilah ini adalah nafsu Yang tertinggi dan teristimewa dari maqam wali/Sufi yang lain, karena ia dapat menghimpun antara bathin dan lahir antara hakikat dan syari’at.
Karenanya dia dinamakan maqam “Baqa Billah” atau “Kamil Mukammil” atau “Insanul Kamil”.

Jelasnya Ruh dan hatinya “Kekal dengan Allah”, tetapi zhahir tubuh kasarnya bersama-sama dengan pergaulan masyarakat, menjadi pemimpin {Khalifah} membina masyarakat ke arah jalan yang dirihoi Allah. 

Hati mereka kekal dengan Allah meskipun diwaktu tidur, karena mereka dapat Musyahadah👈🏻 dengan Allah dalam setiap waktu.

Maqam “Baqa Billah” ini tidak dapat dinilai dengan kebendaan berbentuk apa saja di alam ini, karena itu ia merupakan maqam khawasul khawas.

Segala gerak gerik dan perilaku orang martabat nafsu kamilah ini adalah ibadat semata-mata.

Wallahu a'lam

Sabtu, 15 Oktober 2022

Hakikat Shalawat

Bismillah

( Bag 1 )

Hakikat Shalawat

"Sesungguhnya orang² yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik² (masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. 

Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang" (QS 49 : 4-5)

Kebanyakan kita orang Islam, tidak tahu apa arti dari hakekat shalawat, tapi baru mengetahui bacaan shalawat yang berupa tulisan, padahal tulisan "allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad bukanlah shalawat,
ini hanya tulisan saja. 

Jika dibaca maka bunyinya -allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad- ini juga bukan shalawat, (ketika dibaca terdengar "bunyi itu bacaan "shalawat" nama nya).

Kita ambil contoh lain, dari huruf m-a-k-a-n kita mendengar bunyi -makan- dan ini bukan "makan".

karena huruf m-a-k–a-n
(1), berbunyi –makan-
(2), ada action "makan"
(3), yang di awali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, hingga menelannya.

Contoh lain, dari huruf" shalat 
(1) berbunyi -shalat- 
(2), ada action "shalat
(3), yang diawali dengan niat / takbir diakhiri dengan salam.

Kembali ke  s h a l a w a t
(1), terbaca/berbunyi -shalawat- 
(2), actionnya…⁉️
(3), ....❓

Jika dijawab : Itu…allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad… Lho itu kan bacaannya…. Jadi ada hal yang harus kita pertanyakan.

"Bagaimanakah action shalawat itu sehingga jika kita melakukan action itu secara otomatis melewati wilayah tulisan-shalawat dan bunyi-shalawat.

Lewat action "makan" di dalamnya kita telah m a k a n dan -makan-.

Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan untuk setiap konsep, pemahamnya selalu ada tiga. 

Jadi ada segitiga pemahaman konsep.

"Untuk/kepada siapakah "shalawat" itu diberikan/ditujukan?

Jika melihat bunyi ayat tentang shalawat… inna llaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala nnabiyyi ya ayyuha lladzina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima… maka shalawat ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.) … bacaannya .. allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad…

Sangat pantas beliau mendapat penghargaan seperti itu… sangat tidak mengherankan jika orang² yang hidup di sekeliling beliau siap mati…siap berkorban… siap meninggalkan kemewahan dunia… anak.. isteri.. jabatan….. karena beliau memberi tuntunan sehingga para sahabat dapat "melihat" dapat "mendengar", dan dapat "berbicara". 

Apa yang bisa menandingi kebahagiaan tak terukur yang diakibatkan dari bisa "melihat", bisa "mendengar, dan bisa "berbicara". 

Jawabannya "tidak ada".

Ada ayat yang sangat "keras" bunyinya : (lebih kurang) Katakan :Jika bapakmu, anakmu, harta bendamu, niaga yang kau khawatirkan untung ruginya lebih engkau cintai daripada aku maka rasakanlah azabku.

Lalu bagaimana beliau ber "shalawat" kepada "diri"nya sendiri? 
👇🏻
Beliau tidak akan membunyikan bacaan shalawat. 

Tapi beliau melakukan actionnya.
👆🏻

Lalu sekarang ini apakah kita sudah bisa menulis a l l a h u m m a s h a l l i ‘ a l a m u h a m m a d w a ‘ a l a a l i m u h a m m a d, apakah kita sudah bisa membaca tulisan itu sehingga berbunyi -allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad , dan apakah kita sudah bisa actionnya…?

Ketahuilah : Kita memang kadang sering lupa bahwa cahaya terang di ruangan ini karena ada bola/lampu bisa menyala karena ada gardu dan gardu ini tak berarti apa² jika tidak ada listriknya… dan tentang listrik ini kita sebenarnya hanya melihat "tanda² adanya listrik/gejala listrik". 

Saya tidak bisa melihat listriknya.

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penghormatan kepadanya".
(QS Al-Ahzab 33:56)

Berdasarkan fiman Allah seperti tersebut diatas, umat Islam diperintahkan untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

Pada saat ini kita mengenal beberapa jenis kalimat sholawat yang dibuat oleh para Ulama, sesuai dengan keyakinan dan ajaran masing-masing, diantaranya adalah:

"Semoga Allah memberi sholawat atas Nabi kita, "Muhammad" dan atas "Keluarga" serta Sahabat-sahabatnya".

"Dan berikanlah rahmat Allah dan salam Allah atas Nabinya "Muhammad" dan atas keluarganya dan sahabatnya.

"Ya Allah" berilah rahmat dan sejahtera atas penghulu Nabi kami Muhammad Rosulullah".

Dalam dunia Ma’rifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu :
"Dia (Allah) berada dalam qolbu hambanya yang beriman". (Al Hadits)

Qolbu yang tersebut dalam hadits Nabi 
di atas oleh kaum Ma’rifatullah dinamakan :
-Mahligai–Nya Allah
-Keraton-Nya Allah
-Istana-Nya Allah
-Masjid-Nya Allah
-Rumah-Nya Allah

"Qolbu" itu disebut juga "Induknya Rasa" dan juga disebut "Roh atau Rohul Qudus atau Hu".

Induknya Rasa atau "Rasanya Allah" sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. 

Sedangkan Roh itu sama dengan "Hakekat Muhammad" juga. 

Jadi "Rasa Allah" 
(Rosulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu "Hakekat Rosul Allah".

Jadi kesimpulannya adalah bahwa Qolbu itu adalah "Muhammad" sebagai makhluk pertama yang Allah jadikan dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan "Sifatullah" atau "Nurullah" atau Jauhar Awal (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu "Hakekat Muhammad".

Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku. ( Hadits Qudsi )

"Aku (muhammad) berasal dari Allah dan Alam ini bersal dari Aku (Muhammad). 
( Hadits Qudsi )

Telah datang akan kamu dari pada Allah itu NUR (yaitu Nabi kita Muhammad SAW).
 (QS An-Nisa 4:174)

"Dan dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada" (atau jika sudah menjadi insan yang Sufi/suci, Dia selalu bersamamu).* 
(QS Al-Mujadilah 58 :7)

"Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu”. (QS Qaf 50:16)

Wallahu a'lam.

MAKNA DAN HAKIKAT SHALAWAT

Bismillah ..

( Bag 3 )

MAKNA DAN HAKIKAT SHALAWAT

Nyawa dan Nur Muhammad itu ibarat lampu.

Jiwa dan shalawat itu ibarat kabel yang menghubungkan ke sumber listrik.

Roh dan Tuhan itu di ibaratkan sumber listrik.

ketika seseorang itu bersemangat,
Maka nyawa hidupnya pun semakin kuat.

Begitu pula saat seseorang sedang bersholawat, maka RASA KASIH SAYANG nya pun akan semakin tumbuh dan berwujud di setiap kata² maupun dari perbuatannya.

TUHAN bershalawat pada Rasulullah Saw, agar sifat Ar Rahman (kasih) dan Ar Rahimnya (sayang) selalu memancar dan kekal pada diri Rasulullah Saw.

MALAIKAT bershalawat kepada Rasulullah Saw, agar cahaya kebenaran selalu menyertai jalan hidup Rasulullah Saw.

UMAT-NYA bershalawat kepada Rasulullah Saw, agar akhlak beliau dan sifat terpuji nya, selalu melekat pada perjalanan hidupnya, hingga dengan sifat kasih sayang nya pada orang lain maupun makhluk lainnya, menjadi sebab ia berhak untuk mendapatkan syafaat dari Rasulullah Saw.

MUHAMMAD

Adapun nama MUHAMMAD itu jadi TUBUH pada kita.

Tubuh kepada Muhammad jadi Hati pada kita.

Hati kepada Muhammad jadi NYAWA kepada kita.

Nyawa kepada Muhammad jadi RAHASIA kepada kita.

TUBUH

Adapun yang bernama TUBUH itu adalah PERBUATAN yang datang daripada HATI.

Perbuatan Hati datang daripada Nyawa

Perbuatan Nyawa datang daripada Rahasia

Perbuatan Rahasia datang daripada AF’AL ALLAH.

FUAD

Adapun yang bernama MATA itu ialah untuk MELIHAT dan orang yang melihat itu tempatnya pada MATA HATI letak nya di JANTUNG.

Didalam jantung ada FUAD
Didalam Fuad ada CAHAYA
Didalam Cahaya ada RAHASIA

Didalam Rahasia itu adalah seperti Firman Allah SWT yang berbunyi :-
Al Insanu Sirri…
Wa Ana Sirruhu
Insan itu adalah Rahasiaku dan 
Akulah rahasianya.

*KENAPA NAMA MUHAMMAD❓*

( Rahasia Muhammad )
Adapun sebab Nabi Muhammad itu bernama Muhammad kerana Kehendak Allah.

Sekalian ( Keseluruhan / Semuanya ) Alam ini terjadi kerana Muhammad 
seperti dinyatakan didalam Hadith Qudsi :-
Sekalian jadi daripadamu Ya Muhammad dan engkau jadi daripada AKU.

Sabda Baginda Rasul :-
Aku jadi kerana Allah dan sekalian alam jadi kerana aku.

RAHASIA MUHAMMAD 
( Mim Ha Mim Dal )

KETERANGAN Huruf MIM AWAL MUHAMMAD ( MIM AWAL )

Pertama menunjukkan ZAT hambanya berdiri solat.

Kedua Tempat Makrifat tatkala Qiam.

Ketiga Zikir Bagi Zat yaitu ZIKIR RAHASIA

Keempat tatkala itu Tuhan bernama AHDAH

Kelima semasa itu Tuhan Semata-mata 
Belum ada terjadi apa apa masa itu bernama AH…( Alif Ha )

KETERANGAN HURUF HA MUHAMMAD ( HA )

Artinya SIFAT HAMBA yakni RUKUK dalam solat
Tempat HAKIKAT yaitu Rukuk

Zikir bagi Sifat yakni Nyawa Tatkala itu Tuhan bernama WAHDAH

KETERANGAN HURUF MIM KEDUA MUHAMMAD 
( MIM KEDUA )

Artinya ASMA’ HAMBA yaitu SUJUD dalam solat
Tempat TAREKAT tatkala Sujud

Tatkala itu Tuhan bernama WAHADIAH
Tatkala itu Tuhan TAJALLI sabenar- benarnya meliputi NUR MUHAMMAD. 

Masa itu Tuhan bernama ALLAH SWT.

KETERANGAN HURUF DAL MUHAMMAD ( DAL )

AF’AL HAMBA yaitu DUDUK dalam solat
Tempat SYARIAT yaitu tatkala dalam Duduk

Zikir bagi Af’al yaitu TUBUH La Ilaha Illallah

Tatkala itu Tuhan ibarat LA ( Lam Alif )

Tatkala itu bercampur RAHASIA dengan NYAWA dan ANASIR ADAM 
( Alif Dal Mim ).

Mengingat bacaan shalawat menyimpan keajaiban-keajaiban luar biasa dalam rangka pembersihan jiwa dan penerangan batin, di samping masih banyak lagi rahasia-rahasia dan faedah-faedah yang tidak mungkin dihitung oleh angka dan bilangan.

Seorang salik perlu memiliki hati ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah ketika membaca shalawat atas Nabi Saw,sehingga dia mampu memetik buah shalawat dan barakah-nya yang bertebaran. 

Shalawat di sepanjang perjalanan mencari Tuhan bagaikan lampu penerang yang dapat menjadi hidayah yang dibutuhkan.

Barangsiapa yang menghiasi hatinya dengan lampu shalawat, maka dia akan mampu melihat segala hakikat tauhid berkat cahaya terang shalawat tersebut.”

Dalam kitab Al-Ausath, Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Semua doa tertolak, kecuali dia membaca shalawat untuk Muhammad dan keluarganya.”

Dan Ali bin Abu Thalib r.a berkata, ”Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. 

Kecuali orang itu membaca shalawat, maka tabir itu akan terbakar, dan doa itu pun bisa menembusnya. 

Jika orang itu tidak membaca shalawat, maka doanya akan terpental.”

Wallahu a'lam

Shalawat Ar-Ruh

Bismillah ...

Shalawat Ar-Ruh

اللَّهُمَّ  صَلِّ عَلَی رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ فِی الْأَرْوَاحِ وَعَلَی  جَسَدِهِ فِی الْأَجْسَادِ وَعَلَی قَبْرِهِ فِی الْقُبُوْرِ وَعَلَی  اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ

Nur Muhammad bukanlah Nabi Muhammad yang ada di Makkah, tetapi Nur Muhammad adalah sesuatu sifat pertama kali yang dijadikan Alllah sebelum yang lainnya maujud.

Karena Nur Muhammad sebagai nama Nur Awal, yang nama itu akan di sandang pada Insan yang kelak menerangi rahmat seluruh alam semesta.

Dan Nur Muhammad adalah bagian dari Nur Dzat-Nya.

Dari penciptaan Jauhar awal inilah, Allah berkehendak untuk menciptakannya supaya mengenal siapa Sang Pencipta-Nya.

Maka, hakikat Nur Muhammad adalah " Ar-Ruhul A'zham " dengan dimensi lain disebut sebagai "Akal Pertama".

Dan hakikat Muhammad atau An-Nafs al-Wahdah (Jiwa yang Tunggal), yaitu :

Pertama kali yang dijadikan Allah Swt
atau disebut sebagai Khalqatul Akbar yakni ciptaan yang Agung.

Disebut juga dengan 
Al-Jauharun Nurani atau inti Cahaya...

Nah... jika di lihat dari segi " INTI " segalanya disebut dengan Jiwa yang Tunggal.

Jika dipandang dari segi Cahaya, disebut sebagai akal pertama.

Dalam penomena semestanya memiliki sejumlah nama dan simbol seperti :

Akal pertama.

Al- Qalam yang luhur.

An-Nur yang tunggal.

Al-Lauhul Mahfudz

Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jilani mengutip 
Hadits Qudsi:

ketika Allah menjadikan Ruh Muhammad dari Cahaya Keindahan Wajah-Nya :

" Aku Jadikan Muhammad dari Nur Wajah-Ku."

Sebagaimana yang di sabdakan oleh Nabi Saw. :" Awal ciptaan Allah adalah Ruhku.

Awal yang dicipta oleh Allah adalah Cahayaku.

Dan awal yang di ciptakan Allah adalah Al- Qalam, dan awal yang di ciptakan Allah adalah akal." (HR. Abu Daud)

Maksud dari keseluruhannya yaitu : Ruh, Nur, Qalam dan Aqli (akal) adalah :
Hakikat Muhammad.

Kenapa demikian ???

Disebut " Nur " karena awal ciptaan, sebab bersih dari kegelapan jahiliah. 

Sebagaimana firman Allah Swt :
" Telah datang padamu Nur dan Kitab dari Allah."
(Al- Maidah 15)

Lalu disebut sebagai " Akal " kerana posisinya mengenal semesta secara bebas.

Disebut sebagai " Qalam (Pena) " karena sebagai faktor transmitor ilmu pengetahuan seperti Pena yang memindahkan pengetahuan dari huruf- huruf.

Ruh Rasulullah Saw yang Agung adalah simbol dari semesta ciptaan Allah Swt.

Sedangkan yang awal dan asal semesta ini, sebagaimana sabda Beliau Saw :
" Aku ini dari Allah, dan semua orang- orang beriman dari diriku."

Dari Rasulullah Saw itulah semua ruh² diciptakan di alam Lahut dalam bentuk hakikat paling sempurna.

Dan alam Lahut itu disebut dengan 
"Al- Qathanul Ashli"  yaitu Negeri Asal.

Wallahu a'lam

Minggu, 09 Oktober 2022

TUJUUAN SHALAWAT 2

Bismillah ...

( Bag 2 )

TUJUAN BERSHOLAWAT

Tujuan bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya, serta sahabat²nya, terbagi atas 2 (dua) pendapat yang dapat diartikan secara Syariat dan secara Hakikat yaitu :

1. Secara Syariat.

Umat Islam bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan atas sahabat²nya, secara terperinci ditujukan kepada:

Rosul dan Nabi Muhammad bin Abdulah yaitu insan yang dibersihkan dan disucikan oleh Allah SWT. 

Dan diangkat sebagai Nabi dan Rosul terakhir yang sekarang sudah tidak ada lagi (wafat).

Keluarga Muhammad SAW yaitu : "Anak-istri -Cucu -Ibu-Bapak- saudara dan famili terdekat yang beriman kepada nya. 

Kesemuanya itu sudah tidak ada lagi (wafat).

Para sahabat- sahabatnya yaitu yang dimaksud : Abubakar r.a. -Umar ra -Usman r.a ‘Ali r.a. dan lain-lain nya
Ini pun keseluruhanya sudah tidak ada lagi. (wafat)

2. Secara Hakekat

Umat Islam yang sudah menguasai ilmu syariat, Hakikat, Tarekat dan Ma’rifat juga bersholawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka bersholawat bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, juga tidak ditujukan kepada para keluarga dan para sahabat Nabi, tapi ditujukan khusus kepada:
"Nabi Muhammad selaku Hakekat Rasul Allah Yaitu NUR MUHAMMAD sebagai makhluk yang pertama kali diciptakan, makhluk yang tercinta dan termulia sesudah Allah, sebagai Rosul awal dan akhir yang diberi rahmat untuk semesta alam.

(Ini pun tergantung sampai dimana tingkatan ilmu dan terbukanya hijab yang pernah dianugrahi Allah kepada hamba²-Nya).

"Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penghabisan semua Nabi".
(QS Al-Ahzab 33:40)

"Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah- tengah kamu ada Rasul Allah ".
( QS Al Hujurot 49 :7 )

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab ( Kitab Yang Bercahaya ), mengenalnya ( Nur Muhammad ) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri dan sesungguhnya segolongan diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya . ( QS Al Baqoroh 2 : 146 ) lihat juga QS Al An’am 6 : 20.

"Tugas Ku selesai setelah kiamat" (Hadits)

Disamping ditujukan khusus kepada Hakekat Muhammad ketika membaca sholawat, 
ada juga sebagian kaum Ma’rifatullah menyebutkan keluarga dan sahabat-sahabatnya Nabi dalam arti secara hakekat pula yaitu:
Yang dimaksud "Keluarga Muhammad" adalah mereka yang pernah mengenal kepada "Hakekat Muhammad" yaitu yang berma’rifat kepada Dzat & Sifat Allah.

Yang dimaksud dengan para sahabat-sahabat Muhammad yaitu: mereka yang pernah Allah tunjukan jalan yang lurus; apakah mereka sudah sampai atau belum (tahap ma’rifat kepada Hakekat Rosul Muhammad atau disebut ma’rifat kepada Dzat dan sifat Allah). 

Hal ini tergantung dari keuletan, ketakwaan, keikhlasan, dan keimanan dalam menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar yang diridhoi Allah, sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu (Muhammad) keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS Al-Hujarat 49:5).

(Bahagialah mereka jika mereka bersabar sampai Hakekat Muhammad menampakan dirinya).

Umat Islam yang sudah sampai ke martabat Ma’rifatullah, selalu bersholawat kepada Nabi karena perintah Allah dalam Al Qur’an, dengan tidak menuntut imbalan jasa atau pahala.

1.Bahagialah orang yang bertemu dan mengenal Aku dan beriman kepada-ku. 

(Mereka sudah mencapai derajat Isbatul yakin kepada Hakekat Muhammad).

2.Bahagialah, orang yang tidak bertemu aku, tapi bertemu dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat) dan beriman kepada-ku.

Mereka baru mencapai derajat ilmul yakin terhadap adanya Hakekat Muhammad dalam dirinya sesuai dengan ajaran Islam (ilmu) yang diterima dari guru mursyidnya yaitu guru yang pernah bertemu dan mengenal Hakekat Muhammad.

Mereka sudah dapat dianggap sebagai para "sahabat Nabi Muhammad" dan apabila mereka tekun dalam menjalankan "tarekat", dan lebih bersabar serta lebih mencintai Allah dan Rosul-Nya, Insya Allah dapat meningkat dari "sahabat" menjadi "Keluarga" Nabi Muhammad.

3.Bahagialah, orang yang tidak bertemu dengan aku dan juga tidak mengenal dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat), 
tapi beriman kepada ku.

Mereka yang tidak bertemu dengan hakekat Muhammad dan juga tidak bertemu dengan orang yang mengenal Hakekat Muhammad (ma’rifat), sehingga tidak dapat "Berguru" kepadanya, tetapi beriman kepada Muhammad dan berguru kepada Ulama Syariat dan bisa mendapat ilmu dari hasil membaca kitab yang dikarang oleh para "Ulama" besar, mereka berarti sudah percaya menurut kabar adanya Hakekat Muhammad pada dirinya sendiri.

Pada tahapan tersebut, mereka sudah termasuk umat Muhammad dan mudah-mudahan dengan izin Allah, dibukakan hijab yang menjadi penghalang Qolbu sehingga lambat laun semoga Allah memberikan atau memancarkan Nurrun Ala Nurrin dan meningkat menjadi insan atau sahabat Hakekat Muhammad.

"Rasa Allah" itulah Rasa Muhammad, itulah induknya Rasa atau disebut "Hakekat Muhammad" induknya rasa yang bersih dan suci disebut "Qolbu mu’min" yang menjadi mahligai Allah.

Induk Rasa (Hakekat Muhammad) itu terbagi atas 2 kategori:

Terdiri dari 5 (lima) rasa lahir dan 1 (satu) rasa lahir batin yang mencangkup kelima rasa tersebut tadi. 

Jadi jumlahnya ada 6 (enam) rasa.
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 1 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa jasad, Rosulnya Adam a.s. dan sahabat Rosulnya "Adam Kholifatullah"
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 2 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa pendengaran /telinga, Rosulnya Ibrahim a.s dan sahabat Rosulnya "Ibrahim Habibullah"
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 3 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa penglihatan / mata, Rosulnya Daud a.s dan sahabat Rosulnya "Daud Kholilullah"
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 4 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mulut/lidah, Rosulnya Musa a.s dan sahabat Rosulnya "Musa Kalamullah"
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 5 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mencium atau hidung, Rosulnya Isa a.s dan sahabat Rosulnya "Isa Rohullah"
________________________________________________________
👉🏻Rasa ke 6 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa Qolbu, rasa lahir batin yang mencakup kelima (5) rasa tersebut diatas atau disebut "Hakekat Muhammad" atau "Rosul/Rasa Allah".

Rosulnya Muhammad Saw. Dan sahabat Rosulnya "Muhammad Rosulullah".

Hakekat "Keluarga" dari Hakekat Muhammad itu adalah para Rasul adalah Nyawa/ Penglihatan/pendengaran/ penciuman dan para Nabi adalah Anggota jasad yang 7

Para Nabi itu adalah bersaudara seayah dan seibu, syareatnya berbeda-beda, sedangkan asal dan pokok agamanya satu ( Hadits ).

Adapun yang dimaksud " Sahabat-sahabat "dari Hakekat Muhammad itu adalah "Insan yang benar² beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkat tinggi, hingga diberi anugerah Allah untuk dapat ma’rifat (bertemu, melihat dan mengenal) dengan Hakekat Muhammad atau disebut "Sifatullah" atau "Hakekat Syahadat".

Dimana ada sifat disitu ada Dzat.

Dimana ada Muhammad disitu ada Allah, Merekalah yang dianugerahi Ilmu Laduni yaitu "NURRUN ALA NURRIN" (ma’rifatullah).

Wallahu a'lam

Sabtu, 08 Oktober 2022

Hakikat Shalawat

Bismillah

Hakikat Shalawat

"Sesungguhnya orang² yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik² (masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. 

Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang" (QS 49 : 4-5)

Kebanyakan kita orang Islam, tidak tahu apa arti dari hakekat shalawat, tapi baru mengetahui bacaan shalawat yang berupa tulisan, padahal tulisan "allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad bukanlah shalawat,
ini hanya tulisan saja. 

Jika dibaca maka bunyinya -allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad- ini juga bukan shalawat, (ketika dibaca terdengar "bunyi itu bacaan "shalawat" nama nya).

Kita ambil contoh lain, dari huruf m-a-k-a-n kita mendengar bunyi -makan- dan ini bukan "makan".

karena huruf m-a-k–a-n
(1), berbunyi –makan-
(2), ada action "makan"
(3), yang di awali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, hingga menelannya.

Contoh lain, dari huruf" shalat 
(1) berbunyi -shalat- 
(2), ada action "shalat
(3), yang diawali dengan niat / takbir diakhiri dengan salam.

Kembali ke  s h a l a w a t
(1), terbaca/berbunyi -shalawat- 
(2), actionnya…⁉️
(3), ....❓

Jika dijawab : Itu…allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad… Lho itu kan bacaannya…. Jadi ada hal yang harus kita pertanyakan.

"Bagaimanakah action shalawat itu sehingga jika kita melakukan action itu secara otomatis melewati wilayah tulisan-shalawat dan bunyi-shalawat.

Lewat action "makan" di dalamnya kita telah m a k a n dan -makan-.

Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan untuk setiap konsep, pemahamnya selalu ada tiga. 

Jadi ada segitiga pemahaman konsep.

"Untuk/kepada siapakah "shalawat" itu diberikan/ditujukan?

Jika melihat bunyi ayat tentang shalawat… inna llaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala nnabiyyi ya ayyuha lladzina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima… maka shalawat ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.) … bacaannya .. allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad…

Sangat pantas beliau mendapat penghargaan seperti itu… sangat tidak mengherankan jika orang² yang hidup di sekeliling beliau siap mati…siap berkorban… siap meninggalkan kemewahan dunia… anak.. isteri.. jabatan….. karena beliau memberi tuntunan sehingga para sahabat dapat "melihat" dapat "mendengar", dan dapat "berbicara". 

Apa yang bisa menandingi kebahagiaan tak terukur yang diakibatkan dari bisa "melihat", bisa "mendengar, dan bisa "berbicara". 

Jawabannya "tidak ada".

Ada ayat yang sangat "keras" bunyinya : (lebih kurang) Katakan :Jika bapakmu, anakmu, harta bendamu, niaga yang kau khawatirkan untung ruginya lebih engkau cintai daripada aku maka rasakanlah azabku.

Lalu bagaimana beliau ber "shalawat" kepada "diri"nya sendiri? 
👇🏻
Beliau tidak akan membunyikan bacaan shalawat. 

Tapi beliau melakukan actionnya.
👆🏻

Lalu sekarang ini apakah kita sudah bisa menulis a l l a h u m m a s h a l l i ‘ a l a m u h a m m a d w a ‘ a l a a l i m u h a m m a d, apakah kita sudah bisa membaca tulisan itu sehingga berbunyi -allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad , dan apakah kita sudah bisa actionnya…?

Ketahuilah : Kita memang kadang sering lupa bahwa cahaya terang di ruangan ini karena ada bola/lampu bisa menyala karena ada gardu dan gardu ini tak berarti apa² jika tidak ada listriknya… dan tentang listrik ini kita sebenarnya hanya melihat "tanda² adanya listrik/gejala listrik". 

Saya tidak bisa melihat listriknya.

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penghormatan kepadanya".
(QS Al-Ahzab 33:56)

Berdasarkan fiman Allah seperti tersebut diatas, umat Islam diperintahkan untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

Pada saat ini kita mengenal beberapa jenis kalimat sholawat yang dibuat oleh para Ulama, sesuai dengan keyakinan dan ajaran masing-masing, diantaranya adalah:

"Semoga Allah memberi sholawat atas Nabi kita, "Muhammad" dan atas "Keluarga" serta Sahabat-sahabatnya".

"Dan berikanlah rahmat Allah dan salam Allah atas Nabinya "Muhammad" dan atas keluarganya dan sahabatnya.

"Ya Allah" berilah rahmat dan sejahtera atas penghulu Nabi kami Muhammad Rosulullah".

Dalam dunia Ma’rifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu :
"Dia (Allah) berada dalam qolbu hambanya yang beriman". (Al Hadits)

Qolbu yang tersebut dalam hadits Nabi 
di atas oleh kaum Ma’rifatullah dinamakan :
-Mahligai–Nya Allah
-Keraton-Nya Allah
-Istana-Nya Allah
-Masjid-Nya Allah
-Rumah-Nya Allah

"Qolbu" itu disebut juga "Induknya Rasa" dan juga disebut "Roh atau Rohul Qudus atau Hu".

Induknya Rasa atau "Rasanya Allah" sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. 

Sedangkan Roh itu sama dengan "Hakekat Muhammad" juga. 

Jadi "Rasa Allah" 
(Rosulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu "Hakekat Rosul Allah".

Jadi kesimpulannya adalah bahwa Qolbu itu adalah "Muhammad" sebagai makhluk pertama yang Allah jadikan dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan "Sifatullah" atau "Nurullah" atau Jauhar Awal (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu "Hakekat Muhammad".

Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku. ( Hadits Qudsi )

"Aku (muhammad) berasal dari Allah dan Alam ini bersal dari Aku (Muhammad). 
( Hadits Qudsi )

Telah datang akan kamu dari pada Allah itu NUR (yaitu Nabi kita Muhammad SAW).
 (QS An-Nisa 4:174)

"Dan dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada" (atau jika sudah menjadi insan yang Sufi/suci, Dia selalu bersamamu).* 
(QS Al-Mujadilah 58 :7)

"Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu”. (QS Qaf 50:16)

Wallahu a'lam.